Sabtu, 21 September 2019

Harry Potter

Kali ini gue akan membahas buku Harry Potter yang sangat tersohor.

Gue memang selalu ngikutin film Harpot dari yang paling awal sampe paling akhir.
Tapi gue ga baca bukunya Bradersister. Yang gue baca cuma yang pertama (Philosopher Stone) sama yang terakhir (Deathly Hallows) DAN gue bacanya waktu masih kecil, kayanya masih umur 13 atau 14 gitulah. Jujur aja waktu itu gue hanya seonggok gadis kecil kurus kerempeng dengan kemampuan imajinasi rendah jadi gue banyak ga nangkep isi bukunya.

Akhirnya Noi yang sudah berusia 25 tahun #ups memutuskan buat beli bukunya dan baca lagi dari awal. Sekarang kemampuan imajinasi gue udah gelow kayak Pablo Picasso.

Kebanyakan orang mengatakan bahwa bukunya jauh lebih keren daripada filmnya.
Nah menurut pendapat pribadi gue, memang sih bukunya jauh lebih mendalam dan lebih detail daripada film, tapi sebenernya Warner Bross udah berhasil bikin film yang baguuus banget dari buku Harpot. Ada beberapa hal yang diubah ketika dijadiin film, tapi gak semuanya negatif. Beberapa perubahannya berhasil bikin alur bisa dikisahkan dengan lebih efisien, dan beberapa ada yang bikin cerita lebih dramatis.

Misalnya perkenalan awal Harry Potter si culun dan Draco Malfoy si manusia kampret. Kalau di buku, mereka pertama kali ketemu di Diagon Alley waktu lagi belanja keperluan sekolah.
Kalau di film, mereka kenalan di Hogwarts di depan temen-temen, sehingga menurut gue yang di film tuh perkenalan mereka keliatan jauh lebih dramatis untuk mengawali rangkaian permusuhan mereka sepanjang seri.

Positifnya buku adalah, karakter jauh lebih lengkap, isi hati tiap tokoh lebih dalam diceritainnya, detail lebih maksimal, sampai-sampai bahan pembuat tongkat sihir tokoh-tokohnya aja diceritain dong.
Udah gitu, menurut gue bukunya menceritakan kisah Ginny sama Harpot dengan lebih dramatis dan make sense. Dimana Ginny diceritain suka sama Harry dari kecil, terus dia move on dan coba pacaan sama orang lain (dan ternyata Ginny populer coy gampang amat dapet cowo baru) dan akhirnya setelah Ginny tumbuh mekar seperti gadis kembang kecamatan barulah Harpot ngelirik si Ginny, apalagi di buku keliatan jelas karakter development karakter Ginny dari cewe pemalu dan rendah diri, lama-lama jadi pemberani dan bisa stand for herself, terus dia banyak belajar dari kakak-kakak cowoknya yang sukses-sukses, pemberani dan strong ituloh (yah, kecuali Ron)

Kalau di film sih pertama kali gue nonton, gue nangkepnya malah Ginny ini lebih nonjol sifat agresifnya daripada strongnya. Soalnya dia keliatan banget mepet terus ke si Harry, pegang tangan lah cium lah. Padahal kalau di bukunya, ditonjolin banget sifat Ginny yang strong-willed dan emang tanpa jadi murahan pun cowok-cowok udah naksir dia.

Udah gitu soal golden trio (Harry Ron Hermione)
Edan di buku mah mereka bertiga berantem terus woy dari awal sampe akhir wkwkwkwk dasar anak-anak bau kencur.
Kalau di film sih rasanya ga sampe segitunya deh, cuma beberapa kali di tiap film.
Tapi hubungan mereka di buku emang lebih keliatan sih naik-turunnya, secara diceritain detail banget.

Yah buat kalian yang doyan film Harpot tapi belum baca bukunya, mending baca deh. Seru banget, dan gue pribadi yang udah nonton filmnya lebih dari 20x totalnya, tetep masih enjoy banget baca bukunya.
Eh btw gue ternyata mayan juga uda baca lebih dari 80 novel dalam hidup gue, baru sadar setelah liat akun Goodreads gue sendiri.
Banyak sih orang lain yang udah baca 200-an buku but I'm pretty proud of my number tho.
#sombong #pamer #congkak #tinggihati

Budayakan membacaaaaa. :D

Baik-Jahat

Semua orang pasti memiliki sisi gelap dalam dirinya. Misalnya, tumbuhnya rasa iri, marah, dendam, dengki, atau munculnya hasrat ganjil untuk menjulidkan orang lain. Mana sih ada orang yang ga pernah merasakan atau melakukannya.
Perasaan-perasaan ini tuh seringkali tumbuh sendiri tanpa kita panggil (walau bisa kita tanam dan kita pupuk sendiri)
Kayak rasa lapar dan haus, tanpa kita suruh pun rasa-rasa itu kan bakal muncul sendiri dalam diri kita.
Terus, apakah dengan adanya rasa tersebut berarti kita ini adalah orang jahat?
Sebaik-baiknya orang, apakah mungkin ga pernah ada perasaan negatif dalam dirinya?
Yesus aja pernah marah, Bro. Tapi apakah Yesus itu jahat?

Sebuah perenungan bagi Noi. Hingga suatu saat gue membaca sebuah kata-kata bagus banget nih dari Sirius Black.

"We've all got both light and dark inside us. What matters is the part we choose to act on."

Semua orang memiliki sisi terang dan sisi gelap di dalam dirinya. Yang penting, sisi mana yang kita pilih.

Itu dia Bradersister, secercah cahaya datang dalam hidup gue dan menjawab pertanyaan yang sering terngiang dalam otak gue.

Semua orang pasti memiliki sisi negatif dalam hatinya. Sekarang yang menentukan apakah orang tersebut baik atau jahat adalah, sisi mana yang orang itu mau pilih dalam menjalani kehidupan.
Gue pribadi sih lebih kepingin bisa menerapkan sisi baik gue, walau kadang gue khilaf juga sih, misalnya ga sengaja julid. (Ehe)
Tapi gue rasa, ketika seorang manusia berlaku negatif lalu ia menyesal dan berusaha untuk ga mengulanginya lagi, mungkin orang tersebut bisa dikategorikan sebagai orang baik.
Kebalikannya, ketika seorang manusia berbuat negatif, terus dia bangga dan tanpa merasa bersalah terus melakukannya, mungkin manusia itu ga bisa dibilang manusia baik.

Konsep baik-jahat ini #ceilah memang ribet dan ga sederhana. Standar baik jahat tiap manusia ataupun tiap kelompok manusia toh bisa jadi berbeda.

But thanks to Sirius Black (J.K. Rowling lebih tepatnya)
Buku Harry Potter mengajarkan gue banyak hal bagus tentang kehidupan ini.
Hehehe.




Sombong

Kita bisa sombong akan banyak hal, Bradersister. 
Sombong itu memang gak baik, gue sendiri sering tanpa sadar menyombongkan sesuatu dan kemudian menyesal. Tapi itu ga masalah, yang penting kita mau introspeksi dan mengubah diri. Yang penting kita lakukan kalau mau berubah adalah, kenali dulu kesombongan kita sendiri.
Yang paling gampang keliatan sih menyombongkan sesuatu yang 'lebih' kita miliki daripada orang lain. Misalnya sombong karena punya rumah lebih mewah, sombong karena punya kepintaran lebih tinggi, sombong karena punya bulu dada lebih banyak.
Nah, tapi sebenernya ada kesombongan yang agak sulit dideteksi baik oleh diri sendiri tapi mudah dideteksi orang lain dan seringkali bikin orang tersebut keki. Kalau diri sendiri ga bisa mendeteksi, ya gimana bisa berubah.
Sombong yang seperti ini biasanya berkaitan dengan sesuatu yang 'kurang'. Misalnya merasa diri sendiri kurang berdosa dibanding orang lain, merasa diri sendiri kurang miskin dibanding orang lain, merasa diri sendiri kurang jelek dibanding orang lain. 

(Yah ini mah noi cuma memainkan kata-kata sih wkwk)

Salah satunya yang gue baru sadari belakangan ini adalah.
Gue sering menyombongkan Hp murah Xiaomi yang gue miliki. Kenapa sombong cobak. Harganya cuma Rp 2.500.000,- an kurang lebih, kalah jauh sama Iphone yang harganya bisa mencapai Rp 15.000.000,-
Pada satu titik gue sadar bukan harga Hp nya yang gue sombongkan.
Tapi gue sadar gue menyombongkan ke-kurangpeduli-an gue pada harga Hp. 
Gue pamerin buat buktiin bahwa hanya dengan Hp murah pun gue tetep selalu percaya diri dan keren, Masbro. Gue sombong banget, ngerasa ga butuh punya Hp mahal buat gaul.

Tapi kalau boleh jujur, sebenernya gue emang ga butuh Hp mahal sih, menurut gue Xiaomi Note 7 yang gue miliki udah bagus banget, tahan banting, kamera oke banget, dan batre? Kalau gue pake maen PUBG, maka 1 hari sekali harus dicas. Kalau gak dipake game, Hp gue bisa bertahan 1.5 hari tanpa dicas.
Jadi buat kalian yang lagi cari Hp murah, coba deh beli Xiaomi, worth it banget, gue sama sekali ga nyesel udah beli barang ini. Daripada kalian maksain diri beli Hp 15 jeti (entah merk apapun itu) mending sesuaikan dengan kantong kalian. Tentu saja pesan ini tidak berlaku untuk kamuh-kamuh yang penghasilannya lebih dari 20 jeti rupiah per bulannya. :)

(Note: Gue lagi ngerjain tugas akhir untuk tahap pendidikan S3 Marketing, jadi harap maklum kalau gue tiba-tiba mempromosikan produk di akhir post kali ini.)
Salam sukses. :)

Minggu, 16 Juni 2019

Menggambar

Selamat sore menjelang malam saudara-saudari yang seiman maupun tidak seiman. 

Percayalah gue baru menenggak semangkok indomie goreng original yang sepertinya mengandung pengawet dan pewarna sintetis.
Tiba-tiba gue merenungkan hobi yang sepertinya udah bukan sekedar hobi buat gue, tapi udah jadi passion. 

Sebut saja namanya: menggambar.


Tidak seperti manusia pada umumnya, gue pandai mengingat masa kecil gue secara detail. Waktu pertama kali gue menggambar, gue bener-bener masih kecil banget, ngomong aja masih ga jelas. Mungkin sekitar umur 1 tahun, gue dibeliin pensil warna, krayon dan buku gambar bergambar Smiley di covernya. Gue beruntung sih punya orangtua yang mau dan mampu mendukung hobi anaknya. 
Waktu itu gambar gue masih ga jelas bentukannya. Kadang menggambar bunga, kupu-kupu, cacing, batu, dll. Pada akhirnya ada satu objek yang gue suka banget gambar: manusia. Terutama manusia cewek.
Jadi kalau ditanya udah belajar gambar orang dari kapan, mungkin jawabannya dari umur gue 1 tahun yah.
Waktu itu gambar orang yang gue bikin emang jelek banget, matanya kaya lambang iluminati, bibirnya monyong, rambutnya garis-garis ga jelas, terus badannya kotak-kotak ditumpuk. Dan kebanyakan gambar gue tuh manusia cewek. Sejak kecil gue merasa cewek lebih indah dari cowok. Bukan berarti gue sexist atau feminist loh yah. 

Nah waktu umur gue 4 tahunan, lagi booming banget Sailor Moon di Indosiar. Gue ngefannnnnssssssss buaaangettt sama Sailor Moon waktu itu. Terus kan lucu gitu yah rambutnya cepol dua tapi panjang menjuntai. Yah ga mungkin sih rambut manusia beneran bisa kaya gitu. 
Si Sailor Moon ini sangat menginspirasi gaya menggambar gue pada tahun-tahun itu. Mata besar, rambut panjang. Sampe-sampe baju semua orang yang gue gambar jadi kaya Sailor Moon wakakaka bego emang. 
Sejak itu sampai bertahun-tahun berikutnya, gambar gue nyaris selalu manga-mangaan.
Sailor Moon, Baby UFO, Inuyasha, Naruto, dan lainnya. Style gambar gue cenderung kartun Jepang non-chibi loh. Karena menurut gue chibi terlalu mainstream secara temen-temen gue sesama tukang gambar, stylenya chibi semua. 
Chibi
Gambar bikinan gue pas SD (non-chibi)

Gue paling ga suka jadi sama sama manusia lain. (bukan berarti chibi itu jelek yah)
Makanya gue pilih style non chibi buat diri gue sendiri.  
Waktu itu temen-temen SD gw ga banyak yang doyan gambar. Setau gue cuma anak-anak ini: Nanut, Amanda, Lydia, Andrew Putra, udah. Si Andrew ini dari SD kelas 5 udah suka menggambar bokep loh. Parah emang ini anak. 

Waktu gue masuk ke SMP, gue lumayan pede dengan kemampuan menggambar gue. Gue kira cuma gue yang bisa menggambar. Tapi ternyata gue salah. . . 

Jadi gue tuh sekolah di SD yang muridnya dikit, seangkatan cuma 60 klo gasalah. Waktu SMP, gue hoki masuk SMP favorit swasta di Bandung.  Seangkatan tuh ada setidaknya 210 anak. Mungkin lebih. Jadi yang bisa mengganbar tuh banyak banget banget banget. 
Yang cewe mostly gambar manga chibi, yang cowo sih gambar-gambar manga bokep kayak anak puber pada umumnya lah. Ampun deh dasar kalian kaum Adam. 
Nah di situ sih gue mulai turun kepedeannya. Soalnya gue ternyata hanya sebutir korong di sekolah itu. 
Tapi Noi tidak boleh menyerah. Noi tidak mau hanya menjadi sebutir korong biasa-biasa aja. Noi harus jadi korong yang bersinar. 

Jadi gue mengasah kemampuan gue mengggambar, lumayan sih jatuh bangun.
Usaha-usaha tersebut ga percuma untungnya, gambar dan komik-komik bikinan gue banyak berkontribusi di event-event sekolah. Mading lah, lomba lah, klipingan lah, dan lain-lain. Cukup bangga, ternyata gue bukan cuma sebutir korong biasa tapi bisa agak stand up.
Nah waktu SMA, gue masuk ke sekolah yang yah mayan lah segituan juga muridnya. 
Masih menggambar manga seperti biasa, dan masih berkontribusi juga di acara-acara sekolah. Waktu itu style gue sangat kepengaruh sama gambarnya Arina Tanemura. Dia yang bikin komik Fullmoon Wo Sagashite. Kaya gini gambarnya, non-chibi banget:

Gue suka banget gambar-gambar dia, bagus dan indahhh banget terus detail dan lumayan khas. Tapi jujur aja cerita komik dia jelek, geje, dan maksa. Yah gue mah cukup belajar dari gambarnya ajalah ya. Kayaknya gue menggambar kaya Arina terus sampe lulus SMA. 
Ini gambar bikinan gue yang terinspirasi dari Arina:
Oh iya dalam merubah-rubah style gambar gitu, gue sering banget begadang sampe subuh dan eksperimen menggambar aneh-aneh. Jadi walaupun Noi bangunnya siang tapi ada hasilnya woy ehehe #alesan. Itu juga lumayan sih jatuh bangun banget, karena sering juga buang kertas sampe 10 lembar gagara gambarnya menurut gue jelek ga memuaskan. Tentu saja yang gagalnya ga pernah gue publish, yah jarang lah, tapi kadang gue simpen buat mengingat sebetapa sering gue gagal sebelum akhirnya bisa bikin karya yang memuaskan. 

Waktu gue kuliah, gue jujur aja sih ngerasa gambar manga udah ngebosenin buat gue. Gue kuliah di univ yang lumayan favorit lah di Indonesia. Anak-anaknya kalo ga pinter biasanya kaya raya keturunan sultan, atau kombinasi keduanya, udah pinter kaya raya lagi. Yang bisa menggambar tuh banyaaaak banget di mana-mana, di tiap jurusan ada. Apalagi jurusan arsitektur, ga usah ditanya.
Di situ gue makin ngerasa, kalau gue tetep menggambar manga mah ga ada unik-uniknya dong.
Ga ga ga. Gue harus beda. Gue adalah Noi.

Akhirnya gue mulai mencoba menggambar realis. Awalnya gambar realis gue ga realis sih, cuma gue berusaha serealis mungkin. Seniman yang awalnya menginspirasi gue adalah @BECWINNEL, sampe sekarang gue ga bisa menggambar kayak dia. Ini salah satu karya Becwinnel:
Dan ini adalah usaha gue  meniru si becwinnel:

Gue latihan terus-menerus secara gambar realis tuh terdiri dari garis-garis ga tegas, beda sama manga yang garisnya tegas dan pasti. Yaudah gue latihan berkali-kali. kadang kalau desperate gue coba menggambar pake Grid dulu, ikutin dari contoh.
Percayalah, menggambar pake contoh itu gak dosa dan menurut gue ga mengurangi nilai seni loh. Kadang orang tuh nanya gue pake contoh gak, terus waktu gue ngomong pake, mereka kaya,"Oh, gampang dong kalo pake mah."
Lah kok karya jadi disepelekan gagara pake contoh? Leonardo Da Vinci emang waktu menggambar Monalisa ga pake contoh? Pake, dan menggambar pake contoh itu ga gampang loh pemirsa. . .

Nah begitu deh, awalnya gue mau ikutin si Becwinnel tapi ga bisa-bisa, jujur aja gue kurang jago pake warna-warna gitu. Akhirnya gue menggambar pake pensil graphite item biasa. Gue udah coba macem-macem merk, dari Faber Castel, Derwent, dan lain-lain. Akhirnya gue memutuskan bahwa gue mah menggambar pake campur-campur aja deh, sesuai kebutuhan.
Pernah juga sih gue coba-coba media warna, pensil warna Prismacolor gue beli Rp 1.500.000,-, terus pensil warna Derwent 72 warna, terus pensil aquarel Faber Castel dari Jepang, dll. Atau coba cet air Winsor, Sakura, dll. Kayanya uda abis duit berapa tuh gue cuma buat eksperimen dan ternyata ga semua terpakai. Prismacolor yang tenar itu ga cocok buat gue, walau cocok buat banyak seniman lain. Malah Derwent yang katanya terlalu soft, cocok buat gue.
Untungnya gue hoki karena temen-temen gue bayak yang tau hobi menggambar gue terus kalo gue ultah mereka kasih alat gambar hasil patungan bersama. (Thanks kawan-kawan, sumpah kalian berperan penting dalam perjalanan seni gue) Termasuk pacar gue si Johan, uda berapa kali dia kasih gue alat lukis, dan banyak yang cocok buat gue.

Terus soal benchmark, gue sering banget pantengin karya seni beberapa seniman pro (thanks to Instagram I can easily access their artwork and start benchmarking) diantaranya: @dikatoolkit, @elfandiary, @keimeguro. Style mereka realis simpel, gak hyper realist. Mirip-mirip gue lah tapi gue versi noobnya.

Nah gimana ga ribet perjalanan seni itu, benchmarknya banyak, stylenya banyak, pilihan medianya banyak, tekanan juga bisa jadi banyak. Namanya seni tuh proses belajarnya panjang banget dan berliku. Bakal ada moment dimana kita bimbang akan style kita sendiri, terus moment dimana kita iri sama style orang lain, terus ratusan eksperimen berisiko yang akhirnya gagal. Pernah juga sih style gue diejek anak chibi, katanya style gue kolot kayak nenek-nenek.  Kampret emang sembarangan aja komentar tapi gapapa jadi pengalaman buat Noi.
Waktu itu (dan sebenernya sampe saat ini) gue sebagai seniman terus mengalami jatuh bangun kaya gitu. Belajar seni itu kaya proses pencarian jati diri, kadang harus eksperimen, kadang harus galau, kadang dipuji. Proses ini mahal banget menurut gue, makanya ga aneh kalau karya seni Sunaryo harganya milyaran, karya Leonardo Da Vinci dan Michellango apalagi bisa beli pulau lu. Suatu karya seni tuh punya jutaan kisah di baliknya yang mungkin ga bisa diliat pake mata. Makanya mahal dan ga bisa digampangin. Dan gue yakin sih jatuh bangunnya seniman-seniman "mahal" ini jauh lebih ribet dan menyakitkan daripada gue. Kadang gue ngerasa kalo mental gue ga kuat gue udah nyerah dari kapan, karena proses belajarnya banyak banget yang malesinnnn dan bikin stres.
Nah setau gue Leonardi Da Vinci keluarganya miskin banget awalnya, jadi buat dapet 1 lembar kertas aja harus kerja dulu. Gue yakin dia sih berat banget usahanya, usaha gue mah ga seberapa.

Nah buat kalian yang penasaran atau sekedar kepo silakan intip dikit instagram Noi:
@noi.art
Mungkin di situ kalian bisa liat juga sih post-post awal gue gambarnya kaya gimana, terus sempet berubah style, pernah ngejelekkin, dan akhirnya jadi kaya sekarang.

Ini bonus gambar terakhir yang Noi bikin beserta proses bikinnya.
(Untuk kualitas lebih baik nantikan di instagram @noi.art tanggal 17 Juni 2019)
Hehehe.
Have a nice day!



Kamis, 04 April 2019

Curhatan Di Pagi Hari

Good morning Brader-Sister.

Pagi ini langit terlihat sendu galau gulana karena entah kenapa belakangan ini Bandung hujan terus.
Menurut gue sih teori yang gue pelajari waktu di kelas Geografi soal kapan musim hujan dan kapan musim kemarau di Indonesia tuh sangat ga akurat. Sejak pertama kali gue belajar teori itu, belum sekali pun Indonesia (terutama Bandung) 'menepati janjinya' untuk hujan terus-terusan hanya di musim hujan.

Kantor tempat gue bekerja saat ini, letaknya adalah di sebuah kawasan yang terus-menerus kena air bah. Kadang gue kepikiran apa mending  gue bangun bahtera aja biar bisa ke kantor dengan aman.
Soalnya di sini tuh begitu hujan dikit, pasti banjir. Kalau udah banjir, pasti macet. Pernah suatu kali gue jalan dari kantor ke rumah 3 jam dong. Tepatnya 3 hari yang lalu.
Untuk mencegah hal-hal yang diinginkan maka gue dateng pagian hari ini ke kantor. Tepatnya 70 menit lebih pagi dari jam masuk kantor, gue udah di kantor . . .
Terus kayaknya teman-teman sekantor gue yang nampaknya tidak seperhitungan gue soal waktu, terjebak macet di jalan dan pasti bakal telat semua. . . HAHAHAHA. Potong gaji kalian semua.

Bercanda.

Saat ini gue sedang sendirian di kantor dan lupa masukin duit ke dompet jadi gak bisa jajan. :(
Akhirnya gue membuka-buka blog gue dan baca-baca sedikit.

Kadang gue merasa blog ini udah kayak buku harian yang menemani pertumbuhan gue #pret selama 8 tahun lamanya dari tahun 2011.

Ternyata gue adalah orang yang

Berubah-rubah.

Dan gue telah menjadi pribadi yang lebih tidak lucu dan introvert, Brader-Sister.

Tapi setidak lucu tidak lucunya Noi lah tetep aja konyol dan ceria.

Blog ini, walau konyol dan gak penting, tapi menjadi saksi atas hal-hal yang terjadi dalam hidup gue. Dan membuat gue sadar hal-hal apa aja yang udah merubah diri gue hingga menjadi seperti sekarang ini.




Bersambung.
Pak Manager datang.

Jumat, 15 Maret 2019

Minho

Bukan, Minho yang gue bicarakan bukanlah Lee Minho kesukaan para gadis-gadis fans K-Pop.


Minho di sini adalah nama anjing peliharaan gue... Dia adalah sesosok anjing minipom super lucu yang saking lucunya kadang-kadang pengen gue sate. #psikopat
Bercanda.

Jadi sejak berusia 3 bulan, Minho tinggal bersama keluarga kami. Sempet bingung juga tadinya, mau kasih nama apa.
Nama-nama yang sempat tercetus adalah:

Eduardo
Roberto
Rafael
Jon Snow (pecinta Game of Thrones pasti tau)
Usro

dan lain-lain.

Sempat muncul pertikaian antara gue dan adik-adik gue soal nama apa yang akan kami berikan kepada anjing mimpom super lucu ini.
Nah pas kita liat akta lahirnya ternyata si anjing lucu ini udah punya nama: "Minho"

Hm.. Yaudah aja sih akhirnya kita panggil dia Minho, buat mencegah perang lokal juga.

Gue sebenernya bukan fans K-Pop, terus gue juga agak ga suka liat cowo pake dasi kupu-kupu pink foto nyengir dengan boneka kucing nangkring di pundaknya.

Dan nama Minho sendiri mengingatkan gue pada jenis cowok seperti itu.

Akhirnya, demi menghilangkan image kayak gitu, gue mencoba untuk membayangkan Minho dari film Maze Runner.
Sama-sama berdarah Korea, bedanya Minho yang ini gak pake dasi kupu-kupu warna pink.

Gue lebih suka liat lelaki tulen begini sih daripada cowok cantik macam Lee Minho. Wakakak.

Nah kalau kalian pingin tahu wujud minho kaya gimana silakan follow instagram @minho_theminipom

Ini gue kasih liat dulu lah dikit foto minho dan pacar eike. Dia lelaki tulen.






Isi Hati Cewek

Kenapa coba kalian para pejantan seringkali mendapatkan kesulitan dalam membaca isi hati cewek?

Kali ini Cindy Noi akan berbaik hati memberikan kalian jawabannya:
Hal itu dapat terjadi karena, jangankan kalian para cowok, kami para cewek sendiri aja seringkali bingung sama perasaan kami sendiri.
APALAGI KALIAN DASAR PARA LELAKI MAKHLUK-MAKHLUK TIDAK PEKA.
#eh #bercanda #BERCANDAAA

Jadi gini loh... Seringkali cewek tuh tiba-tiba merasakan ketidaksukaan sama sesuatu, tapi gak tau apa penyebabnya. Pokoknya ga suka, terus jadi cemberut. Terus waktu si cowok nanya,"Kamu kenapa sih cemberut?"
Nah si cewek yang juga sama bingungnya dengan si cowok, akan menjawab,"Gak ada apa-apa."
Atau diem aja juga bisa. Udah gitu si cowoknya bakal pusing delapan keliling, katanya gak ada apa-apa tapi kok cemberut. Apalagi kalau udah ditanya malah diem aja.

Gue sendiri seringkali bingung sama perasaan gue sendiri. Misal - MISAL DOANG YA - Gue ngeliat cowok gue ngobrol terus ama cewek lain yang adalah sepupunya. Terus gue ngerasa ga suka. Tapi gue tuh bingung.. Ketidaksukaan ini bukanlah rasa cemburu - yang mana - gue ga mungkin cemburu sama sepupu pacar gue sendiri.
Terus gue cemberut.. Tapi gue sendiri gak tau kenapa gue ngerasa gak suka.
Ujung-ujungnya, waktu si cowok nanya kenapa gue cemberut, gue cuma ngomong ga apa-apa atau diem doang.
Kenapa ini bisa terjadi? Gagaranya adalah.. Cewek (biasanya) memiliki keterbatasan dalam mengelola informasi mengenai perasaan dirinya sendiri. Kemudian keterbatasan itu bikin si cewek ga bisa menyampaikan perasaannya yang sesungguhnya pada si cowok.
Nah dalam case barusan, sebenernya gue bukan cemburu sama sepupu cowok gue, tapi gue cuma sebel aja dicuekin. INI CUMA PEMISALAN, PERMISAH. Gue gak beneran sebel kok sama pacar gueh.

Nah, karena gue super sering merenung dan mikir, gue jadi mulai belajar mengelola informasi tersebut, dan belajar menyampaikannya ke pasangan. Nah ini mungkin bisa jadi bahan perenungan bagi kalian para cewek yang juga suka bingung sama perasaan sendiri.

Jadi biasanya inilah runtutan hal yang sering terjadi:
1. Si cowok melakukan sesuatu yang si cewek gak suka atau ada sikon yang bikin cewek ga suka.
2. Si cewek ngerasa bete tapi gak ngerti kenapa betenya (atau ngerasa ngerti padahal nggak)
3. Si cowok nanya kamu kenapa
4. Si cewek diem/ngomong ga ada apa2, gagara si cewek bingung juga dia betenya kenapa

Nah kemudian inilah yang Noi seringkali lakukan:

5. Merenung sebentar dan minta waktu buat gue memikirkan sebenernya gue kenapa bete sih
6. Setelah ketemu jawabannya, sampaikan ke si cowok (dalam kasus ini adalah Johan karena Johan adalah pacar gue) ehe.
7. Nah dia jadi tau kenapa gue bete.. Udah gitu gue lega juga udah bisa menyampaikannya.

Ada lagi problem lainnya, para pemirsah.. Kali ini kita lihat dari sisi cewek. Yaitu cara cewe menyampaikan isi hati pada si cowok.
Seringkali cewek gengsi atau bingung merangkai kata buat menyampaikan perasaan ke si cowok.

Ini adalah hal yang juga bisa kalian lakukan:
Bikin surat.

Tapi surat di sini bisa dalam bentuk chat sih, ga harus surat yang dikirim pake merpati.

Nah kalau dalam bentuk surat, kalian bisa mengurutkan dan menyusun kata-kata dengan hati-hati, ga harus spontan. Tentu kita menyadari gak semua orang punya bakat buat menyampaikan isi hati dengan spontan. Hindari kata-kata yang menyudutkan karena wanita dewasa tidak akan menghabiskan tenaganya hanya untuk melampiaskan ego tanpa menyelesaikan inti masalah.
#ehehe

Cara lain, mungkin dengan mencari style bicara kalian sendiri.
Kalau gue sih sukanya gini. (Contoh untuk case tadi)

"Beb gue bete siah euy. Abisnya lu ga dengerin gue ngomong sih malah asik sama sepupu lu. Jadi pingin makan apa gitu biar ga bete lagi."

Terus berlanjutlah kami makan bareng.
(Ga heran berat badan Johan terus bertambah seiring berjalannya waktu).


Atau cara lain misalnya dengan langsung to the point aja, tapi jangan di depan orang-orang, ngapain coba bikin malu pacar sendiri.
"Beb kalau lagi sama keluarga kamu aku jangan dicuekin dong. Salting nih, abis kalau bukan kamu siapa lagi yang merhatiin aku?" *terus tarik-tarik kecil lengan baju si cowo *


Kalian silakan cari dan pilih sendiri caranya. Uhuhuhuy.